Minggu, 16 Agustus 2026

Langit dan Musimnya

Cinta yang kuberikan seputih awan,

ringan, tenang tanpa prasangka akan datangnya badai.

Kupercayakan seluruh langitku kepadamu,

sebab kupikir kaulah tempat paling aman

bagi segala harap yang kusimpan.


Namun perlahan, kau biarkan warnanya berubah menjadi abu-abu.

Gelap datang tanpa aba-aba,

disusul gemuruh yang menurunkan air

yang kita sebut hujan.


Aku tak lagi mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada kita.

Begitu banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan,

namun aku tahu, tak satu pun akan menemukan jawaban.

Semuanya akan berakhir sebagai pertanyaan retorik

yang terus berputar di dalam kepalaku sendiri.


Barangkali memang ada sesuatu Yang tak pernah mampu kulihat.

Atau mungkin,

aku terlalu sibuk memperbaiki apa yang retak,

hingga tak sadar kau sudah lama memutuskan untuk pergi.


Aku tak pernah memiliki kendali atas rasa

yang perlahan menjauh dariku.

Semakin erat kugenggam,

semakin cepat ia lepas.

Jarak yang kau minta terlalu jauh untuk mampu kuraih,

hingga langkahku terhenti sebelum sempat sampai kepadamu.


Aku menghitung hari

dengan keyakinan

bahwa esok akan membawa kabar baik.

Namun setiap pagi

yang datang hanyalah sunyi,

dan setiap malam

meninggalkan ruang kosong

yang tak mampu kutiduri.


Dua kali aku memintamu

untuk tidak meninggalkanku.

Dua kali pula

aku menanggalkan egoku,

mengakui segala salah

yang bahkan belum tentu milikku,

berharap itu cukup

untuk membuatmu bertahan.


Aku rela menjadi orang yang selalu meminta maaf,

asal bukan menjadi orang yang harus kehilanganmu.

Namun ternyata,

memohon tidak selalu membuat seseorang tinggal.

Kadang,

semakin kita memperjuangkan,

semakin jelas bahwa kita sedang berjuang sendirian.


Lalu aku mulai mengerti,

barangkali cintaku tak pernah benar-benar menjadi alasanmu bertahan.

Aku hanyalah tempat yang singgahnya telah usai,

sedangkan hatimu diam-diam telah pulang

ke arah yang tak pernah bisa kuikuti.


Namun jika hati terus bertikai

dengan keyakinannya sendiri,

mengapa dulu kau begitu meyakinkanku

bahwa kita akan baik-baik saja?


Mengapa kau membiarkanku

membangun begitu banyak mimpi,

jika pada akhirnya aku harus merobohkannya seorang diri?


Aku masih mengingat

cara kita menertawakan hal-hal sederhana,

membicarakan masa depan

seolah waktu akan selalu berpihak.

Kini,

semua kenangan itu hanya menjadi tempat

yang paling menyakitkan untuk kembali.


Aku mencoba membencimu,

tetapi yang datang justru rindu.

Aku mencoba melupakanmu,

tetapi setiap langkah selalu menemukan jejakmu.

Aku mencoba menerima,

tetapi hatiku masih terus bertanya,

"Bagaimana mungkin seseorang

yang pernah berkata akan tetap tinggal,

justru menjadi orang pertama yang mengajarkanku arti ditinggalkan?"


Kini yang tersisa hanyalah hujan,

membasahi kenangan yang kehilangan tempat untuk pulang.


Sedangkan aku,

masih berdiri di bawah langit yang sama,

berharap awan itu kembali memutih,

meski jauh di dalam hati

aku tahu langit yang pernah kita miliki

telah memilih musimnya sendiri.


Dan mungkin,

suatu hari nanti kau benar-benar bahagia

bersama seseorang yang bukan aku.


Sedangkan aku,

akan tetap menjadi seseorang

yang sesekali menengadah ke langit,

tersenyum tipis ketika hujan turun,

lalu diam-diam mengingat

bahwa pernah ada cinta

yang begitu tulus diperjuangkan,

namun tetap kalah

bukan karena kurang mencintai,

melainkan karena hanya satu hati

yang memilih untuk bertahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar