Kamis, 09 Juli 2026

Menuju Tiga Puluh Tujuh

Berlatar belakang Kota Padang, di tanah kelahiran orang tersayang. 

Di antara jalan-jalan yang pernah menyimpan tawa dan langit yang pernah menjadi saksi, aku kembali mengingat semua yang tak lagi bisa kugenggam. Hari berganti tanpa banyak meminta izin.

Menuju tiga puluh tujuh di hari Sabtu, seolah mengingatkan bahwa waktu tak pernah benar-benar menunggu siapa pun.

Lima puluh tiga bukan sekadar angka, perjalanan yang sarat rasa.

Ia adalah kumpulan cerita, percakapan yang pernah menghangatkan malam, doa-doa yang diam-diam dipanjatkan, juga harapan yang perlahan kehilangan arah. 

Angka itu menyimpan lebih banyak rasa daripada yang mampu dijelaskan oleh kata-kata.


Tak berarti namun penuh arti. Tentang kehadiran yang dulu begitu dekat, hingga ketidakhadiran yang kini terasa begitu nyata. Ada ruang yang tak lagi terisi, ada kebiasaan yang berubah menjadi sepi, dan ada namamu yang masih sesekali singgah di dalam pikiranku tanpa permisi.


Janji yang pernah terucap perlahan teringkar, bukan semata karena tak ingin ditepati, melainkan karena waktu membawa kita pada jalan yang berbeda. Kesibukan menjadi alasan, ego menjadi dinding, dan diam menjadi bahasa yang paling sering digunakan. 

Tanpa disadari, sikap acuh mulai meruntuhkan apa yang dulu dibangun dengan penuh keyakinan. Hingga akhirnya kita sama-sama sadar, bahwa saling menyakiti ternyata lebih mudah daripada saling memahami.


Tiga puluh satu hari telah terlewati. Hari-hari yang dulu terasa singkat kini berjalan begitu lambat. Kebiasaan yang dahulu selalu ada kini berubah menjadi sesuatu yang asing. Tak ada lagi pesan sederhana untuk menanyakan kabar, tak ada lagi cerita kecil yang dulu terasa begitu berarti. Warna-warni yang pernah memenuhi hari perlahan memudar, menyisakan langit yang lebih banyak berwarna abu-abu. Meski begitu, aku masih berharap semesta tetap menghadiahkanmu keteduhan, meski bukan lagi dariku.


Lagi, aku jatuh di tempat yang sama. Tempat di mana kenangan tumbuh tanpa pernah diminta, memaksa hati mengingat apa yang sebenarnya ingin dilupakan. Setiap sudut kota terasa menyimpan jejakmu. Setiap hujan membawa kembali percakapan yang tak pernah selesai. Namun aku mulai percaya, sejauh apa pun kenangan mengejar, waktu akan selalu bekerja dengan caranya sendiri. Perlahan, ia akan mengajarkan bahwa tidak semua kehilangan harus terus diratapi.


Mungkin benar, kita harus melupakan rindu. Melupakan mimpi yang hampir menjadi nyata. Bukan karena rasa itu telah habis, tetapi karena memaksanya bertahan hanya akan membuat luka semakin dalam. Ada cinta yang cukup hidup di dalam kenangan, tanpa harus kembali menjadi kenyataan.


Meski begitu, rindu tetap memiliki caranya sendiri untuk datang. Ia hadir tanpa mengetuk, menetap tanpa meminta izin. Dalam lagu yang tak sengaja terdengar, dalam aroma hujan yang membawa ingatan, dalam malam-malam panjang ketika dunia terasa terlalu sunyi. Rindu itu masih ada, hanya saja kini aku tak lagi mengajaknya berbicara.


Suara yang dulu ingin didengar kini tak lagi terhirau. Dua kali tertahan, berkali-kali diurungkan. 

Tentang keberanian yang selalu kalah oleh rasa enggan. Tentang kata "kembali" yang tak pernah benar-benar sanggup diucapkan. Mungkin karena aku tahu, tak semua yang dirindukan harus ditemui, dan tak semua yang dicintai harus dimiliki.


Hari ini aku memilih berjalan dengan langkah yang lebih pelan. Bukan untuk menunggumu mengejar, melainkan agar aku bisa benar-benar meninggalkan semua yang pernah kita usahakan. Jika suatu saat namamu kembali melintas di hidupku, semoga ia datang hanya sebagai kenangan yang mampu membuatku tersenyum, bukan lagi sebagai alasan untuk kembali terluka.


Sebab pada akhirnya, rindu akan tetap tinggal. Ia mungkin tak pernah benar-benar hilang, hanya belajar hidup berdampingan dengan keikhlasan. Dan aku pun akan tetap mengenangmu, bukan untuk berharap kau kembali, melainkan sebagai bukti bahwa pernah ada seseorang yang begitu berarti, lalu perlahan menjadi bagian dari masa lalu yang harus direlakan.